Hari itu, Rabu 29 Agustus 2006
Hari yang bersejarah bagiku. Hari itu adalah hari sidang D-3 aku. Hari dimana untuk pertama kalinya aku menjalani sidang tugas akhir kuliah yang telah aku jalani selama tiga tahun.
Malam sebelum hari itu, yaitu Selasa 28 Agustus 2006 jam di meja belajar ku menunjukan pukul 21.00. Hening dan dingin. Sungguh aku sulit sekali tidur malam itu. Entah karena grogi atau bingung berbalut cemas mikirin sidang besok, yang membuat koneksi mata dan otak ga mau sinkron. Mata mau merem tapi otak masih demen muter.
Tiba-tiba hp-ku berbunyi. Tanda sms masuk rupanya. Aku buka inbox ternyata pengirimnya adalah seseorang yang sangat spesial. Lebih spesial dari martabak telor spesial pake 4 telor bebek kesukaanku. Sebuah nama yang sampai saat ini entah mengapa setiap kali kulihat namanya muncul di panggilan masuk atau pesan masuk membuat urat dan otot di pipi sontak bergerak ke arah yang sama membentuk suatu gerakan dinamis berupa senyuman manis.
Sms nya tertulis kira-kira seperti ini: ”Belum tidur ya?? Jangan malam-malam ya tidurnya, besok khan harus bangun pagi. Kamu khan sidang besok.”
Cepat aku pun membalas sms nya (masih dengan gerakan dinamis yang aku sebutkan di atas): ”Koq tahu siy aku belum tidur? Ga bisa tidur niy.”
Tak lama kemudian sms balasan pun datang: ” Udah tenang aja, aku yakin kamu pasti bisa deh. Besok pagi, sebelum kamu bangun aku udah sampai rumah kamu.”
Aku membalasnya (masih dengan gerakan dinamis yang semakin harmonis kali ini): ”Lho kamu mau ke rumahku pagi-pagi?? Kamu berangkat jam berapa dari rumah?? Ga kepagian??”
Sekedar informasi, karena satu dan lain hal yang bersumber dari alasan keamanan, aku sekeluarga selama 3 tahun hijrah ke Depok. Rumah Tirta di daerah Cakung, Jakarta Timur.
Aku rehat sejenak saat menulis bagian ini, tak kuasa air mataku mengalir mengingat kenangan saat itu. Butuh 10 menit untuk menenangkan emosiku agar bisa kembali stabil.
Sms balasan pun datang: ”Aku akan antar kamu ke kampus besok untuk sidang. Aku akan temani kamu sampai kamu selesai sidang. Udah kamu tenang aja, malam ini aku nginap di rumah Adhe. Yang penting sebelum subuh aku udah sampai rumah kamu.”
Adhe Yudhanegara, Adhe nama panggilannya. Ia adalah sahabat Tirta. Ia sangat berjasa karena sering Tirta menginap di rumahnya. Ia dan keluarganya sangat baik, tak hanya kepada aku dan tirta, tetapi kepada semua orang. Ia dan keluarganya benar-benar manusia yang sangat baik. Karena jasa Adhe lah, aku bisa menyelesaikan tugas akhirku dengan baik, karena di rumahnya aku numpang ngeprint sekaligus numpang ngerepotin.
Sms lanjutannya: ”Sekarang kamu tidur, biar besok ga telat bangunnya.”
Aku membalas: ”Iya. Makasih ya. Kamu baik sekali sama aku. Wassalam”
Setelah itu aku pun terlelap. Tidur dalam senyuman dan ketegangan.
Depok, Rabu 29 Agustus 2006 pukul 04.00 pagi.
Mamaku biasa bangun pukul 04.00 pagi. Aktivitas yang biasa dilakukan seperti pagi lainnya. Sayup-sayup suara muratal Syaikh Al-Ghomidhi melantun indah membacakan untaian ayat suci Al-Quran, menemani aktivitas mamaku di pagi hari.
Aku terbangun karena mendengar suara motor yang sangat aku kenal. Samar-samar aku lihat jam di meja belajar, pukul 04.15. Aku mengintip dari balik jendela kamarku, ternyata ia benar menepati janjinya semalam. Ia datang.
Terdengar ucapan salam di pintu depan. Mamaku segera bergegas ke depan, dan ternyata memang benar Tirta yang datang.
Aku segera bersiap, mandi dan sholat subuh. Pagi itu kami shalat subuh berjamaah, dipimpin oleh Tirta. Aku dan mama di belakangnya. Doa ku pagi itu khusyuk sekali, ada rasa kedamaian dan ketenangan luar biasa yang aku rasakan.
Kebiasaan shalat berjamaah dengannya sebisa mungkin kami lakukan jika kondisi memungkinkan, jika aku tidak berhalangan tentunya. Aku senang mendengar suaranya saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, indah dan damai. Semoga kebiasaan shalat berjamaah ini bisa terus dilakukan. Amin.
Pukul 06.00 pagi.
Aku dan tirta siap untuk berangkat ke kampusku di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Jarak yang akan kami tempuh kurang lebih 25 km. Bahan materi sidang, buku-buku pegangan, botol minum dan tas ranselku semuanya tak lupa aku bawa. Aku pamit sama mama memohon doa agar sidangku hari itu diberi kemudahan.
Sepanjang perjalanan, ia tak berhenti menghibur dan menenangkanku. Ia menghiburku dengan beragam cerita lucu yang aku sendiri heran koq stock cerita lucunya ga ada habis-habisnya.
Ia benar-benar menemaniku seharian itu. Saat-saat aku menunggu dipanggil sidang, menunggu hasil sidang, hingga mengantar aku pulang kembali sore harinya. Tak sedikitpun terlihat guratan letih dan lelah di wajahnya. Yang terlihat hanya wajah teduh dan lucu darinya.
Ia adalah satu-satunya mahkluk di bumi selain mama dan papaku yang sangat mengerti aku bahkan sebelum aku mengutarakan apa maksud dan kemauanku. Ia, si botak beralis tebal berwajah manis. Tirta Arif Permana namanya.
<bersambung>
OLEH-OLEH