First word, big thanks for your coming to my little blog. Hopefully you enjoy reading the posts.

In few sections ahead, my blog will be filled with TnT (Tirta dan Tamel) Story which is categorized in Chrysantium Folder.

Hopefully it can be wrapped when my wedding comes. :smile:

With Love,

Tamelia

Aku tidak boleh berlarut-larut dalam sentimental nostalgia masa perkuliahan. Aku harus segera bergerak untuk episode baru di kehidupanku.

 

Saat itu yang aku miliki adalah semangat dan harapan. Doa dan tawakal adalah pelengkap ketika semua ikhtiar telah dilakukan. Doa yang selalu aku panjatkan sebagaimana halnya mahasiswa lainnya adalah bisa lulus tepat waktu, bekerja untuk kemudian mandiri.

 

Ikhtiar yang aku lakukan selain mencoba mengikuti setiap materi perkuliahan dengan serius walau kadang jenuh dan bosan melanda, sebisa mungkin aku menjalin hubungan baik dengan para dosen di kampus. Jangan salah sangka dulu ya, hubungan baik di sini maksudnya antara pendidik dan anak didik. Aku sangat yakin dengan salah satu hadist Rasulullah bahwa perluaslah tali silaturahim dan pintu rezeki pun akan terbuka. Nah salah satu pintu silaturahim yang aku bangun selain kepada teman-teman kuliahku juga kepada para dosen ku di kampus.

 

Aku membangun kedekatan dengan para dosen semata-mata aku lakukan karena aku tahu persis kelemahan dan ketertinggalanku dibanding teman-teman yang lain. Sebagai lulusan sekolah kejuruan (baca: SMEA) jelas aku sangat jauh tertinggal dengan teman-teman yang lain. Di awal-awal kuliah aku sangat kesulitan mengikuti perkuliahan kalkulus. Sekali lagi aku tekankan, sangat sulit (dengan nada naik 3 oktaf sekaligus), karena materinya yang sangat eksak sekali. Sedangkan matematika SMEA ku hanyalah sebatas matematika keuangan yang amat sangat standar. Saat SMEA, aku tidak mempelajari trigonometri, aku tidak akrab dengan integral dan keluarga besarnya serta aku juga tidak bersahabat dengan statistik dan gerombolannya. Di lain pihak integral dan statistik adalah inti dari materi aktuaria. Kemampuan matematika ”eksak” ku hanya dari SMP saja, yang artinya aku pelajari sudah 3 tahun yang lalu terhitung saat aku menjadi mahasiswa tingkat 1.

 

Rasa iri jelas aku rasakan, melihat teman-teman sekelasku dengan lancar mengikuti kuliah yang sangat ”menyebalkan” tersebut. Di awal-awal perkuliahan untuk pertama kalinya aku merasa sangat menyesal mengapa dulu memilih jalur SMK bukan SMU. Aku sendiri bingung kenapa dulu memilih SMK bukan SMU, tapi ya sudahlah semua sudah terjadi. Menyesal toh tidak menghasilkan apa-apa. Akhirnya yang bisa aku lakukan adalah memulai semuanya dari nol. Dengan bantuan temanku, Dedi Saputra, aku pinjam kumpulan soal-soal matematika SMU dari kelas 1 hingga kelas 3.

 

Dedi Saputra, Dedi aku biasa memanggilnya tapi lebih sering aku memanggilnya dengan panggilan Peshu. Mengapa dipanggil Peshu, ah ada baiknya tidak usah diceritakan di sini ya. Dedi salah satu sahabat terbaikku di kampus. Dia baik walau terkadang menyebalkan bin menjengkelkan. Dia perhatian walau terkadang juga raja tega sedunia. Dia salah satu contoh prototype manusia positif yang antara perkataan dan perbuatan sering ga sinkron. Bilangnya ga peduli, tapi diam-diam dia akan membantu temannya yang membutuhkan. Alasannya agar terhindar dari sifat riya’. Dia wirausahawan sejati. Apa saja akan diobjekin. Mulai dari bisnis foto copy-an walau rugi terus, bisnis buku bacaan hingga bisnis jual-beli kalkulator.

 

Aku foto copy, aku bawa kemana saja aku pergi. Aku bawa setiap kali aku kuliah, ga peduli apa mata kuliahnya aku selalu bawa. Foto copy setebal 800 hal menjadi penghuni setia tas ransel hitamku. Aku baca dan aku coba kerjakan soal-soal di dalamnya, di mushola kampus, di tangga dekat ruang senat, di halte bis PLN, di bis selama perjalanan, di kantin, di lorong, di kelas saat nunggu dosen, di manapun aku berada sebisa mungkin aku kerjakan soal-soal tersebut. Targetku adalah aku harus bisa menguasai matematika smu selama 1 semester. Aku tidak mau ketinggalan dengan teman-teman yang lain. Aku percaya selalu ada jalan untuk setiap masalah, semua bisa dipelajari, tidak ada yang tidak mungkin. Aku tidak ingin huruf C di transkrip nilai kalkulusku. Bagiku saat itu tidak ada hal yang dapat aku berikan kepada orang tuaku selain hasil kuliah yang baik. Aku hanya ingin membayar setiap pengorbanan kedua orang tuaku sekuat dan semaksimal yang aku mampu.

 

Alhamdulilah segala perjuanganku membuahkan hasil yang manis. Saat pembagian KHS semester 1, pada materi kuliah Kalkulus huruf ”B” tertera di sana. Hal itu sudah cukup bagiku. Aku sudah mampu membuktikan bahwa aku bisa bersaing dengan yang lain, aku mampu dan aku bisa. Pertolongan Allah sangat dekat, sangat dekat. Lebih dekat dari urat leher kita sendiri.

 

Dari situlah aku makin yakin dengan kemampuanku. Untuk semester selanjutnya aku mulai sering berinteraksi dengan dosen-dosen di kampus. Sekali lagi Allah mengulurkan bantuanNya. Salah satu dosen yang aku hormati, Bpk (Alm) Tugendar A. Mitrasupena, M.Sc, FSAI yang juga sebagai dosen pembimbing tugas akhirku menawarkan sebuah pekerjaan di kantornya. Beliau menjadi Direktur Utama di perusahaan tersebut, dan kebetulan saat itu sedang membutuhkan staff teknik valuasi aktuaria. Beliau merokemendasikanku untuk langsung menjadi permanent employee. Akhirnya, persis seperti yang aku harapkan dalam doa-doaku, tidak lama setelah aku lulus aku sudah bisa bekerja dan membiayai kebutuhan hidupku sendiri. Alhamdulilah. Sungguh pertolongan Allah sangat dekat. :smile:

Akhirnya setelah menempuh masa perkuliahan yang penuh dengan kenangan, baik suka maupun duka (tapi lebih banyak sukanya sih) puji syukur kepada Allah Sang Maha ilmu aku bisa menyelesaikan kuliah D3-ku tepat waktu dan dengan hasil yang cukup baik. Semuanya terbayar lunas tanpa kredit dan cicilan ketika Ketua Penguji sidang menyatakan dengan lantang tepat pukul 5 sore bertempat di Gedung B lt 2 Jl Purnawarman No 99 Kebayoran Baru Jakarta Selatan:

 

”Tamelia Ma’ruf, dengan no NPM 780/AKT/2003  dengan tugas akhir yang berjudul Multi Life Insurance With Scholarship Benefit pada hari ini, Rabu 29 Agustus 2006 kami nyatakan lulus dengan nilai A.

 

Seketika itu juga semua beban menjadi ringan. Kenangan di masa perkuliahan pun seketika menjadi kenangan yang indah dan sulit terlupakan. Masa dimana kalkulus menjadi satu-satunya pelajaran yang amat menguras energi dan emosiku, masa dimana aku belajar menghitung prediksi dan kemungkinan seseorang akan meninggal berdasarkan metode matematika dan statisika (benar-benar kuliah yang aneh :smile: ), masa dimana selama 3 tahun aku banyak bertemu orang-orang yang hebat, yang menyebalkan, yang menyenangkan, yang membingungkan dan yang penuh dengan inspirasi, masa di mana hari-hari tak lengkap jika tidak membawa kalkulator scientific merk casio type fx-3650 (iklan silver queen aja mah lewat), jenis kalkulator yang persis seperti mandat dari dosen kalkulusku yang nyentrik dan unik, Arya Bagistra. Dosenku ini tergolong unik karena tiap kali mengajar tidak pernah sekalipun kulihat ia membawa buku. Gaya khasnya yang cukup melegenda di kalangan mahasiswa aktuaria. Beliau lah yang merekomendasikan menggunakan kalkulator jenis itu. Sebagai mahasiswa tingkat awal yang polos, aku pun mengikuti rekomendasi sang dosen. Dan percaya atau tidak kalkulator tersebut masih aku pergunakan hingga saat ini, aku bawa kemana saja aku pergi. Tersimpan di tempat pensilku di dalam tasku. Bahkan tak jarang saat kondangan atau ke resepsipun aku selalu membawa kalkulator ini. Agak aneh memang, tapi lebih aneh lagi klo ga membawanya. Difikir-fikir buat apa coba bawa kalkulator di kondangan?? Tapi yah itulah efek dari suatu kebiasaan yang terus kebawa sampai sekarang. Saat masa kuliah dulu kita selalu disarankan membawa kalkulator setiap kita kuliah. Tak peduli apapun kuliahnya, kalkulator bawaannya. Halah kayak iklan lagi deh :smile: .

 

Perasaan aneh dan gamang pun terjadi ketika di awal-awal masa kelulusanku. Semuanya tiba-tiba hilang dan perlahan menjadi de-javu masa lalu ketika aku melihat sekumpulan mahasiswa yang tengah sibuk berdiskusi metode graduasi Spencer 21, Makeham, Larus 19, Vaughan, dan interpolasi. Tiba-tiba perasaan melankolis dan rindu teramat sangat ketika aku menyaksikan beberapa mahasiswa asyik merumuskan formula penurunan numerical newton raphson skala 4 atau berdebat menggunakan rumus aktuaria dalam formulasi matematika aktuaria untuk produk joint life dengan pendekatan integral, pendekatan symbol komutasi Jordan dan Takashi Futami jilid 2. Sungguh aku rindu saat-saat itu. Aku pernah menjadi seperti mereka, mengalami keruwetan dan kepusingan yang tak berujung, tetapi menyenangkan.

 

Tapi itu semua sudah berlalu. Masaku telah berakhir dan kini siap berganti dengan lembaran yang baru. Like wise man says: ”Life must goes on”, seperti itulah aku meyakinkan diriku bahwa apa yang telah aku selesaikan kemarin menjadi pengantar untuk tugas dan masalah yang akan aku hadapi ke depan.

 

<bersambung>

Hari itu, Rabu 29 Agustus 2006

Hari yang bersejarah bagiku. Hari itu adalah hari sidang D-3 aku. Hari dimana untuk pertama kalinya aku menjalani sidang tugas akhir kuliah yang telah aku jalani selama tiga tahun.

Malam sebelum hari itu, yaitu Selasa 28 Agustus 2006 jam di meja belajar ku menunjukan pukul 21.00. Hening dan dingin. Sungguh aku sulit sekali tidur malam itu. Entah karena grogi atau bingung berbalut cemas mikirin sidang besok, yang membuat koneksi mata dan otak ga mau sinkron. Mata mau merem tapi otak masih demen muter.

Tiba-tiba hp-ku berbunyi. Tanda sms masuk rupanya. Aku buka inbox ternyata pengirimnya adalah seseorang yang sangat spesial. Lebih spesial dari martabak telor spesial pake 4 telor bebek kesukaanku. Sebuah nama yang sampai saat ini entah mengapa setiap kali kulihat namanya muncul di panggilan masuk atau pesan masuk membuat urat dan otot di pipi sontak bergerak ke arah yang sama membentuk suatu gerakan dinamis berupa senyuman manis.

Sms nya tertulis kira-kira seperti ini: ”Belum tidur ya?? Jangan malam-malam ya tidurnya, besok khan harus bangun pagi. Kamu khan sidang besok.”

Cepat aku pun membalas sms nya (masih dengan gerakan dinamis yang aku sebutkan di atas): ”Koq tahu siy aku belum tidur? Ga bisa tidur niy.”

Tak lama kemudian sms balasan pun datang: ” Udah tenang aja, aku yakin kamu pasti bisa deh. Besok pagi, sebelum kamu bangun aku udah sampai rumah kamu.”

Aku membalasnya (masih dengan gerakan dinamis yang semakin harmonis kali ini): ”Lho kamu mau ke rumahku pagi-pagi?? Kamu berangkat jam berapa dari rumah?? Ga kepagian??”

Sekedar informasi, karena satu dan lain hal yang bersumber dari alasan keamanan, aku sekeluarga selama 3 tahun hijrah ke Depok. Rumah Tirta di daerah Cakung, Jakarta Timur.

Aku rehat sejenak saat menulis bagian ini, tak kuasa air mataku mengalir mengingat kenangan saat itu. Butuh 10 menit untuk menenangkan emosiku agar bisa kembali stabil.

 

Sms balasan pun datang: ”Aku akan antar kamu ke kampus besok untuk sidang. Aku akan temani kamu sampai kamu selesai sidang. Udah kamu tenang aja, malam ini aku nginap di rumah Adhe. Yang penting sebelum subuh aku udah sampai rumah kamu.”

Adhe Yudhanegara, Adhe nama panggilannya. Ia adalah sahabat Tirta. Ia sangat berjasa karena sering Tirta menginap di rumahnya. Ia dan keluarganya sangat baik, tak hanya kepada aku dan tirta, tetapi kepada semua orang. Ia dan keluarganya benar-benar manusia yang sangat baik. Karena jasa Adhe lah, aku bisa menyelesaikan tugas akhirku dengan baik, karena di rumahnya aku numpang ngeprint sekaligus numpang ngerepotin.

Sms lanjutannya: ”Sekarang kamu tidur, biar besok ga telat bangunnya.”

Aku membalas: ”Iya. Makasih ya. Kamu baik sekali sama aku. Wassalam”

Setelah itu aku pun terlelap. Tidur dalam senyuman dan ketegangan.

Depok, Rabu 29 Agustus 2006 pukul 04.00 pagi.

Mamaku biasa bangun pukul 04.00 pagi. Aktivitas yang biasa dilakukan seperti pagi lainnya. Sayup-sayup suara muratal Syaikh Al-Ghomidhi melantun indah membacakan untaian ayat suci Al-Quran, menemani aktivitas mamaku di pagi hari.

Aku terbangun karena mendengar suara motor yang sangat aku kenal. Samar-samar aku lihat jam di meja belajar, pukul 04.15. Aku mengintip dari balik jendela kamarku, ternyata ia benar menepati janjinya semalam. Ia datang.

Terdengar ucapan salam di pintu depan. Mamaku segera bergegas ke depan, dan ternyata memang benar Tirta yang datang.

Aku segera bersiap, mandi dan sholat subuh. Pagi itu kami shalat subuh berjamaah, dipimpin oleh Tirta. Aku dan mama di belakangnya. Doa ku pagi itu khusyuk sekali, ada rasa kedamaian dan ketenangan luar biasa yang aku rasakan.

Kebiasaan shalat berjamaah dengannya sebisa mungkin kami lakukan jika kondisi memungkinkan, jika aku tidak berhalangan tentunya. Aku senang mendengar suaranya saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, indah dan damai. Semoga kebiasaan shalat berjamaah ini bisa terus dilakukan. Amin.

Pukul 06.00 pagi.

Aku dan tirta siap untuk berangkat ke kampusku di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Jarak yang akan kami tempuh kurang lebih 25 km. Bahan materi sidang, buku-buku pegangan, botol minum dan tas ranselku semuanya tak lupa aku bawa. Aku pamit sama mama memohon doa agar sidangku hari itu diberi kemudahan.

Sepanjang perjalanan, ia tak berhenti menghibur dan menenangkanku. Ia menghiburku dengan beragam cerita lucu yang aku sendiri heran koq stock cerita lucunya ga ada habis-habisnya.

Ia benar-benar menemaniku seharian itu. Saat-saat aku menunggu dipanggil sidang, menunggu hasil sidang, hingga mengantar aku pulang kembali sore harinya. Tak sedikitpun terlihat guratan letih dan lelah di wajahnya. Yang terlihat hanya wajah teduh dan lucu darinya.

Ia adalah satu-satunya mahkluk di bumi selain mama dan papaku yang sangat mengerti aku bahkan sebelum aku mengutarakan apa maksud dan kemauanku. Ia, si botak beralis tebal berwajah manis. Tirta Arif Permana namanya.

 <bersambung>

Prolog: Akhirnya setelah sekian lama penulisan ini ke-pending karena banyaknya agenda yang harus dijalankan, kini aku bisa menulis kembali. Dan cerita pun berlanjut..

Masa perkuliahan berjalan dengan cepat. Makin hari aku makin dekat dengannya. Kedekatan kita lebih banyak disebabkan karena kesibukan kita di perkuliahan. Mulai dari belajar bareng, membahas materi perkuliahan bersama hingga rumpiin dosen paling rese hingga dosen paling cihuy di kampus.

Kedekatan kita berdua ditafsirkan berbeda oleh masing-masing temanku. Ada yang frontal, ada yang cuek kaya bebek lagi giring anaknya di tengah kawanan ayam ga peduli pertamax naik terus atau gayus kabur (lagi) dari tahanan, ada yang ”panas” kaya adegan ”aslinya” jupe-depe di infotainment dan juga ada yang rese kaya lalat ngrumungin makanan, makin diusir makin banyak dia bawa pasukan. Yah seperti itulah kisah kita berdua.

Apapun itu, jujur saat itu aku masih berada dalam proses pendewasaan, sehingga seringkali aku terbawa menanggapi hal yang remeh temeh tersebut. Yang membuat aku sering tertawa kecil jika mengingatnya sekarang.

Mungkin tidak banyak yang tahu, satu-satunya alasan aku yang membuatku simpatik padanya adalah keinginan dia yang ingin maju dan tidak sombong. That’s it.

Aku masih ingat bagaimana ia saat masih kuliah dulu. Berpostur kecil, pakaian kebesarannya adalah kemeja dan celana bahan. Kendaraan satu-satunya adalah motor biru buatan Korea, Kymco namanya. Aku sering menyebutnya dengan Ku-Bi (alias ”kuda” biru). Ia sungguh pria yang amat sederhana.

Tapi lebih dari semuanya, ia mempunyai kesungguhan tekad yang luar biasa. Ia tidak gampang ”meledak” saat ia diremehkan ataupun direndahkan. Tidak seperti aku yang gampang sekali ”terpancing”.

Masih teringat suatu kejadian di rental komputer kampus. Hari itu hari pembagian KHS, hari dimana kita mengetahui berapa IP (indeks prestasi) kita. Di ruangan yang tidak terlalu besar itu hanya ada beberapa orang saja. Tirta kebetulan juga ada di sana. Ia terlihat lesu saat mengetahui IP semester 1 nya berada di kisaran dua koma satu. Sebuah angka IP yang cukup buruk menurutku. Aku yang satu tahun di atasnya alias saat itu aku menginjak semester tiga, hanya bisa membesarkan hatinya dan berkata padanya:” Hei,,perjalanan masih panjang. Masih banyak kesempatan untuk kamu. Ada lima semester ke depan untuk mengubah segalanya. Jangan terpuruk hanya karena hasil semester satu ini.” Ia pun tersenyum, manis sekali.

Tiba-tiba saja seorang mahasiswa masuk berikut ”gerombolannya”. Ia adalah ”kepala suku” di kampus, seorang yang karena satu dan lain hal tidak bisa aku sebutkan namanya di sini. ”Kepala Suku” nampaknya sangat bahagia sekali hari itu, kebetulan ia sekelas denganku jadi yah cukup banyak aku tahu seperti apa sifat dan tabiatnya. Baru ku tahu ternyata ia keliatan bahagia hari itu karena IP nya semester itu untuk pertama kalinya ”menginjak” di angka tiga. Ia berkata dengan lantang kepada seisi penjuru ruangan di rental yang tidak terlalu besar itu. Begini katanya: ”Anak Rohis tuh malu klo punya IP di bawah 3. Apalagi 2. (sambil menunjukkan KHS nya dan angka tiga koma sekian tertulis disana)” Mungkin maksudnya baik untuk memotivasi kita semua (kebetulan tirta anak rohis di kampus juga) agar bisa sukses menyeimbangkan antara dakwah dan kuliah. Tapi yang terasa di aku, kalimatnya itu penuh dengan rasa sombong. Suatu sifat yang amat aku benci sekali. Memang subjektif sekali penilaian aku ini, tapi menurut aku pribadi ada banyak pilihan kata yang jauh lebih bijak dan tentunya jauh dari kesan sombong dibanding kalimat yang diucapkannya. Tirta hanya berkata pelan namun penuh dengan kesungguhan, ”semester depan dan seterusnya IP ku akan diatas tiga. Aku janji.”

Demi Allah yang Maha Bijaksana, kesungguhan dan kerja kerasnya terbayar manis pada akhirnya. Semester depan ia membutikan ucapan dan tekadnya. Angka tiga koma satu tertulis manis di KHS nya. Terima kasih kepada ”kepala suku” yang telah ”memotivasi” dirinya. ”Motivasinya” benar-benar berhasil, berhasil membuat IP tirta selalu naik drastis tiap semester hingga selesai kuliah sekaligus berhasil membuat ”kepala suku” tersebut malu. Malu?? Yah malu, karena di saat IP tirta tiga koma empat beberapa semester kemudian semenjak peristiwa itu dan ”kepala suku” kembali ke ”habitatnya” di angka dua koma sekian, tirta tidak membalas dengan kalimat yang sama. Ia hanya berkata dengan pelan kepadaku, ”Cukuplah sombong hanya milik Allah. Kita manusia hanya wajib berusaha”. Aku berharap, ”kepala suku” tersebut dapat belajar dari sikapnya tempo hari. Dari situlah aku makin simpatik padanya. Dia lah sosok ideal untuk menjadi suami dan ayah bagi anak-anakku kelak. Insya Allah.

<bersambung>

Cukup lama aku dibuat terpingkal-pingkal oleh aksinya yang kocak itu. Tak lama kemudian sahabat-sahabatku datang menghampiri, mungkin karena mereka terpancing dengan suara tawaku yang lain dari pada yang lain (baca: menyeramkan).

Mba trie, anugrah dan ika datang mendekat. Mereka tentu penasaran apa yang membuatku bisa tertawa begitu lepasnya karena harap maklum aku jarang bisa tertawa begitu lepas. Lain dengan sahabatku yang bernama Ika Nurmayanti, biasa kita panggil ika. Tuhan mungkin menakdirkannya mempunyai urat tawa yang lebih longgar dibanding orang kebanyakan, bisa dikatakan KW 1 lah. Ia sangat mudah tertawa dan mudah pula membuat orang lain tertawa atau paling ngga senyum lah. Ika bagiku seperti sambel dan teh botol sosro. Mau makan pake apa aja belum pas klo ga pake sambel dan minum teh botol sosro. Nah sama persis tuh kaya dia, mau suasana senang or sedih kurang pas klo ga ada dia. Klo momentnya lagi senang, dia bisa bikin suasana jadi tambah ceria. Begitupun sebaliknya klo momentnya lagi sedih, dia orang terakhir yang berhenti nangis disaat yang lain udah pada selesai. Singkat kata, dia team hore jika kita lagi pada ngumpul. Selain itu suara dia juga lumayan bagus lho, menurutku. Yah setipe sama suaranya Rossa lah,,tapi versi Rossa lagi sakit tenggorokan dan flu berat.  Apalagi klo lagi tilawah Al Quran (kali ini beneran deh,,serius), subhanallah indah sekali. Saat dia sedang bertilawah itulah satu-satunya moment dimana kita ga berani godain atau becandain dia. Dia bisa berubah jadi wanita yang super duper kalem dan lembut klo lagi tilawah. Setelah selesai, yah balik lagi penampakan aslinya.

Oke balik ke cerita semula, akhirnya setelah teman-temanku tahu hal apa yang telah membuatku tertawa terpingkal-pingkal, kita jadi bisa lebih kenal deh dengan si botak itu. Namanya Tirta Arif Permana. Aku yang memang agak sulit menghapal nama, hanya tahu nama belakangnya saja, Permana. Karena klo arif, banyak yang namanya arif. Aku hanya ingin mencirikan saja, agar prosesor otaku mudah mencerna. Maklum saat itu masih pake pentium 4, belum zaman inter core 2 duo.  

Aku yang memang pada dasarnya cuek dan ga terlalu ngeh ternyata si Botak ini juga memperhatikan aku. Hanya saja aku nya yang kelewat cuek dan ga sadar. Nah satu-satunya yang ngeh cuma ika saja. Hingga suatu hari ika cerita padaku (dengan gaya pedagang ikan Kramat Jati nawarin ikan ke orang yang cuma lewat yang awalnya ga niat mo beli jadi terpaksa beli) klo sehari sebelumnya dia pulang bareng dengan si botak itu, dan dia titip salam manis buat aku. Dia ga berani nyampein langsung karena sungkan dan malu. Wah saat itu, jujur ada rasa yang beda dari biasanya. Sejujurnya sebelumnya sudah beberapa kali juga temanku menyampaikan salam dari temanku yang cowok, yang ga berani menyampaikan langsung. Tapi rasanya biasa saja, tak ada yang spesial. Kali ini beda. Entah mengapa sejak hari itu aku jadi kefikiran si botak berkulit hitam dan berwajah manis itu. Semua gara-gara ulah si Ika ini yang selain berbakat membuat orang tertawa juga sangat pandai merangkai cerita (baca: heboh klo cerita). Sepertinya Ika cocok sekali untuk jadi Mak Comblang berbakat nomor wahid. Sudah terbukti dan terpercaya. Jadi saran aku, bagi kamu yang belum punya pasangan dan ingin segera punya, jangan ragu untuk menghubungi ika (cari di facebook dengan nama aslinya) karena sampai saat ini dia juga belum punya pasangan. Tetapi tulus aku katakan, terima kasih ya ka.

<bersambung>

Sekembalinya aku dari mushola kampus, rasa tenang dan damai aku rasakan. Aku pun melangkahkan kakiku ke “medan pertempuran” osman. Siang itu cuaca sangat terik. Suatu kondisi yang seringkali mamaku menganalogikannya seperti ini: “Panas banget hari ini, naro telur di jalan (baca: masak telur) bisa langsung mateng niy.”

Tak jauh dari mushola kampus ada sebuah koperasi karyawan, oia aku belum cerita ya, kampusku ini tidak seperti kampus yang ada di film-film, kampus yang ada liftnya, kampus yang ada kantin super nyaman, kampus yang mahasiswanya boleh pake jeans dan kaos oblong. Kampusku sangat jauh berbeda dari bayangan kampus-kampus yang digambarkan di atas. Kampusku lebih mirip perkantoran (karena memang sebenarnya komplek perkantoran di lingkungan Departemen Keuangan RI), dimana perkuliahan seperti kegiatan diklat. Karena berada di kompleks perkantoran itulah, kita para mahasiswanya dituntut untuk berpakaian sopan dan rapi. Bagi cowok, celana bahan, kemeja dan sepatu. Bagi Cewek, celana atau rok bahan, kemeja dan sepatu. Ga ada tuh mahasiswa cewek yang berpakaian ”U can C” atau mahasiswa cowok yang berambut gondrong kaya penyanyi reggae yang udah sebulan ga shampoan. Klopun ada, pastilah mahasiswa itu kena masalah klo ga sama dosen yang udah sangat senior (baca: tua-tua) yang sudah karatan terdidik dengan budaya ala Belanda (baca: disiplin minta ampun, karena klo minta duit pasti ga mungkin dikasih khan?), atau ga sama sekretariat kampus.

Oke balik ke cerita tadi ya, perjalananku singgah sebentar di koperasi kampus (atau koperasi kantor ya?) untuk sekedar mencari minuman dingin yang bisa menyegarkan tenggorokanku siang itu. Setelah cukup lama menimbang-nimbang minuman mana yang akan kubeli, akhirnya aku putuskan untuk membeli sebotol minuman orange dingin. Lumayan lah untuk menyegarkan kembali otakku.

Segera saja kuhabiskan sebotol minuman (tapi ga sama botolnya) lalu aku beranjak ke ruangan dimana peserta osman berkumpul.

Samar-samar kudengar suara orang yang seperti teriak, mungkin itu suara salah satu panitia yang lagi ”latihan vokal” dengan perantara adik kelas (baca: ngomel-ngomel), fikirku. Makin lama makin terdengar keras. Sebenarnya aku sudah mulai terbiasa dengan suasana seperti ini, suasana dimana orang-orang lagi alergi ngomong pelan. Penasaran, akhirnya aku singgah ke ruangan tersebut. Ooh, ternyata lagi latihan ayam entog toh (lengkap dengan gayanya). Ritual ayam entog bisa dikatakan ritual yang lucu dan menurutku melatih konsentrasi. Ritual tersebut tak lain adalah menyanyikan sebuah lagu dengan lirik yang susunan kata per katanya hampir mirip.

Beginilah liriknya:

Ayam ayam ayam entog

Entog entog entog bebek

Ayam mengentog bebek

Bebek mengentok ayam

Ayam bebek entog-entogan

 

Aku yakin, jika ayam, entog dan bebek tahu klo kita pake nama mereka menjadi sebuah lagu mereka pasti akan minta royalti tuh.

Sebenarnya osman tak hanya diisi dengan ritual senior mengojlok junior or perbuatan konyol lainnya, tapi osman juga sarat akan kegiatan yang menumbuhkan semangat kebersamaan, kekompakan, kreatifitas dan kepemimpinan. Walau harus kuakui, test mental adalah bekal wajib di osman itu sendiri.

Aku berkeliling di sebuah ruangan tempat peserta osman berkumpul. Mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 8 – 10 orang. Kelompok-kelompok tadi membuat lingkaran-lingkaran kecil, dimana masing-masing lingkaran ada kakak panitia di dalamnya. Panitia sedang memberikan teka-teki yang harus dipecahkan oleh setiap kelompok. Jika ada kesalahan yang dibuat oleh satu saja peserta dari setiap kelompok, maka pantitia akan memberikan hukuman berupa ritual ”ayam-entog” tadi.

Tiba-tiba langkahku terhenti di sebuah kelompok. Aku terdiam, dan cukup lama memperhatikan kelompok tersebut. Tak lama kemudian aku dibuat tertawa hingga sakit perut, sakit kepala dan sakit pinggang sekaligus. Salah satu peserta di kelompok tersebut sedang dikerjai oleh temanku, Brilly. Ia disuruh untuk meminta maaf dengan menggunakan bahasa jepang dengan gaya mirip ayam nelen karet gelang yang habis direndem sehari semalam di minyak tanah. Kelojotan sana kelojotan sini. Hahahaha lucu sekali. Anehnya, peserta itu tak sedikitpun merasa canggung ataupun malu. Mungkin karena memang ia senang diperlakukan seperti itu, atau mungkin karena memang bawaan ia yang santai tanpa beban, fikirku. Tak hanya aku yang dibuat tertawa hingga lupa klo uang di dompet tinggal lima ribu dan belum bayar uang kost bulan itu, kelakuan si botak beralis tebal berkulit hitam berwajah manis juga menghibur dan membuat beberapa kakak panitia tersenyum melihat tingkah polanya. Si botak itu, ternyata telah ditakdirkan Tuhan tak hanya menghiburku kala itu saja tetapi bertahun-tahun sesudahnya. Ia lah yang kemudian menemani hari-hariku dengan penuh warna, canda, tawa dan semangat. Ia, si botak itu, adik kelasku, calon suamiku, Tirta Arif Permana. <bersambung>

Hari itu entah mengapa banyak sekali yang berteriak, marah-marah dan ngomel-ngomel. Mungkin karena udara yang panas. Matahari hari itu memang seperti ngajak saudaranya untuk mampir ke bumi. Panas dan terik. Masya Allah di dunia saja sebegitu panasnya, bagaimana nanti di akhirat. Ya Rabb, ampunilah kami semua.

Sejenak aku rebahkan tubuhku di mushola kampus. Aku yang pada dasarnya ga terlalu suka dengan keramaian dan keributan, membuat aku menjadi ekstrovert yang introvert. Saat aku butuh kesunyian untuk sekedar merenung atau untuk mengakui betapa sangat rendah, lemah dan hina nya aku, aku akan sekejap menghilang dari keramaian. Sendiri. Berteman dengan kesunyian. Mengadu kepada Sang Kebaikan.

Di mushola itulah aku sejenak beristirahat selepas salat dzuhur.  Beberapa lembar Al Quran aku baca dan coba ku resapi maknanya. “Dan nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?” pertanyaan yang begitu keras ditanyakan olehNya lepada kita, manusia. Begitu banyak fikiran yang berkecamuk dalam otakku saat itu. Penuh. Padat, seperti jalanan di Kuningan Jakarta di hari senin jam 5 sore. Aku berfikir, hendak jadi apa aku 1 tahun lagi, 2 tahun lagi, 3 tahun lagi dst?? Pada waktu itu aku berfikir, aku sekarang sudah di tingkat 2 kuliah, tahun depan tingkat 3. Selepasnya aku bagaimana?? Terbayang sudah wajah mama papa di rumah. Bagaimana susah payahnya mereka menyekolahkan aku. Menurut data statistik, jumlah pengangguran pada tahun 2004 adalah 9 juta jiwa. Kemungkinan besar tahun 2006, saat aku lulus nanti jumlah pengangguran akan semakin bertambah melihat kondisi politik dan ekonomi yang ada di Indonesia relatif tidak menunjukan perubahan yang siginifikan.

Maka saat itulah aku berfikir, aku harus menentukan orientasiku saat ini. Hendak jadi apa aku setahun lagi, 2 tahun lagi, 3 tahun lagi dan seterusnya. Aku benar-benar harus merancang masa depanku sendiri, bukan karena aku ingin seperti orang lain tetapi karena aku bertanggung jawab penuh atas hidupku di hadapanNya kelak.

Aku yang saat itu masih menjadi mahasiswa tingkat 2 yang ditakdirkan kuliah di jurusan yang tergolong aneh dan kurang popular di Indonesia, aku yang masih meminta uang jajan setiap hari dari orang tua, aku yang masih berjuang untuk masa depanku kelak, aku yang belum bisa beli apa yang aku inginkan dengan uangku sendiri dan aku yang masih belum ada apa-apanya. Atas dasar itulah, lalu aku berkeinginan kuat untuk tidak mau mengizinkan angka 2 koma sekian di transkrip IP ku setiap semester, aku yang harus lulus tepat waktu, aku yang harus segera bekerja setelah lulus, aku yang harus bisa kuliah lagi dengan biaya sendiri, aku yang harus bisa memberikan sesuatu ke mama papa setidaknya sebulan sekali, aku yang harus menikah sebelum usia 26 tahun, aku yang harus punya rumah dan mobil sendiri sebelum usia 30 tahun, aku yang harus bisa berhaji sebelum usia 35, aku yang harus stop kerja di kantoran sebelum usia 40 tahun, dan aku yang punya sekolah sendiri sekaligus menjadi guru di dalamnya.

Semuanya terbayang jelas dalam renunganku siang itu. Semuanya hanya akan menjadi impian kosong jika aku hanya sekedar bermimpi tanpa berbuat sesuatu yang berarti. Dan semuanya bermulai dari sini, di kampus ini. Bismillah, aku pun beranjak dari mushola. Kembali ke tugas ku. <bersambung>

Hari-hari osman dipenuhi oleh berbagai kejadian unik, aneh dan lucu. Sekilas aku teringat kejadian beberapa tahun yang lalu saat aku menjadi peserta osman. Banyak kejadian manis, pahit dan berharga. Tapi ada satu kejadian lucu yang tak akan pernah aku lupa. Yang bisa membuat aku tertawa dan tersenyum sendiri jika mengingatnya. Kejadian yang unik dan lucu.

September 2003

Tempat: Koridor kampus Purnawarman.

Waktu: Jam makan siang dah pokoknya

Saat itu waktu istirahat. Kita, semua peserta dikumpulkan di koridor kelas. Duduk berjejer mirip pengungsi di barak penampungan yang menunggu jatah makanan. Mengenaskan sekali.

Entah mengapa, aku yang sangat doyan makan, pada saat osman selera makan ku menguap terbang jauh ke awan, ditiup angin melanglang jauh entah ke mana yang ga mau disuruh balik. Seperti biasa pas makan siang, kakak kelas yang super duper cerewet kaya donald bebek lagi ngomelin 3 ponakannya memberikan instruksi untuk menghabiskan makanan. Bagi yang tidak sanggup menghabiskan, diminta peserta cowok mau menghabiskan sisanya. Alhasil saat itu aku harus mengerahkan kemampuanku untuk membujuk temanku yang cowok untuk mau menghabiskan lebih dari 1/ 2 porsi makananku. Kebetulan hari itu menu yang diperintahkan adalah tumis buncis atau tumis kacang panjang.

Berbicara tentang tumis kacang panjang, menurutku penemu nama makanan itu pasti waktu SD nilai bahasa indonesianya sangat jelek. Bagaimana tidak, kacang panjang yang awalnya memang panjang, setelah dipotong menjadi pendek tetap saja dinamakan kacang panjang. Beuhh tidak menjunjung tinggi harkat dan martabat per-kacangan. Balik ke cerita sebelumnya ya, mamaku ternyata masaknya tumis kacang panjang yang tak lagi panjang. Seperti hari osman sebelumnya, siang itu aku tidak sanggup menghabiskan makan siangku. Di dekatku ada seorang teman cowok yang aku rasa cukup baik. Endra namanya. Kita sering ngobrol saat ada jeda istirahat. Hal itu karena aku kelompok 12 dan endra kelompok 13. Nah, endra aku bujuk untuk mau menghabiskan sisa makananku. Entah mengapa, hari itu ternyata banyak sekali ya yang makanannya ga dihabiskan. Dan endra, 1 dari sedikit peserta cowok yang ga jaim, yang mau menghabiskan makanan orang lain. Singkat cerita, selain aku ada teman lain juga ternyata yang menaruh makanan di tempat makan endra. Karena pada dasarnya endra tuh anak yang rada cuek, selebor sekaligus rakus, alhasil semua makanan tersebut dimakannya tanpa sisa. Benar-benar pembersih sejati.

Semula biasa saja. Semua berjalan seperi hari osman sebelumnya. Hingga akhirnya aku melihat sedikit keanehan pada wajah endra. Wajahknya yang semula memang sudah bulat jadi semakin bulat. Bulatan itu yang kemudian beranak pinak hingga membentuk benjolan kecil-kecil yang tumbuh dengan baik menjadi benjolan yang beranjak besar. Melihatnya menjadi semakin lucu. Seperti badut Ancol yang ditimpukin tomat sama anak-anak se Ancol yang ngajak mama papanya buat ikut nimpukin juga. Benjol sana benjol sini.

Keesokan harinya, ternyata si Endra ini tidak datang. Sakit. Rupanya ia alergi buncis. Oalah, baru kali ini aku tahu ada orang yang alergi sama buncis. Buncis oh Buncis. <bersambung>

Dengan menunpang bajaj, kita pun berempat berangkat ke kampus. Beragam rasa dan fikiran berkecamuk dan berputar di otak kita masing-masing. Tak ada yang tahu, selain orang itu sendiri dan Tuhan pastinya.

Hari ini untuk pertama kalinya kita diwajibkan menggunakan jaket almamater kampus berwarna biru dongker. Jaket almamater yang dari awal kita masuk belum sekalipun kita gunakan. Jaket itu harus kita gunakan, paling tidak selama 10 hari ke depan.

Dulu saat masih berstatus pelajar sma, setiap kali melihat demo di tv yang dilakukan oleh mahasiswa yang terbayang olehku adalah rasa bangga, keren dan lucu. Bagaimana tidak, mereka mahasiswa sang pendemo itu dengan lantang meneriakan aspirasinya melalui sebuah alat yang biasa kita sebut dengan sebutan ”toa”. Aku sih sempat berfikir mereka yang koar-koar itu sebenarnya cuma cari pelampiasan saja. Mereka yang kebetulan belum dapat kiriman uang dari ortu bagi yang merantau, mereka yang dapat nilai jelek pas ujian, mereka yang habis diputusin, mereka yang ditagih terus sama ibu kostan, mereka yang diomelin mulu sama ortu di rumah karena udah berjamur di bangku kuliah ga lulus-lulus, mereka yang lagi sebel banget sama dosen gara-gara ngasih nilai yang super duper pelit kaya paman gober, mereka yang kebetulan lagi dapat nasib kurang beruntung, menumpahkan dan melampiaskan segala yang ada di dada di demo tersebut. Yah lumayan lah dari pada disimpen nanti jadi penyakit. Tapi itu semua hanya di fikiran aku saja pastinya.

Hari itu kamis, 23 September 2004. Hari di mana MaBa (Mahasiswa Baru) diharuskan datang untuk briefing awal sebelum menjalani masa osman yang sebenarnya. Hilir mudik kendaraan sudah ramai memadati kampus di pagi itu.

Terdengar sayup-sayup percakapan panitia lainnya, dari mulai rencana mereka mengerjai junior nya hingga mengincar maba cewek yang cantik atau maba cowok yang keren bin tajir.

Aku, Anugrah, Nina dan Mba Trie berjalan menuju sebuah ruangan yang kita siapkan untuk penyambutan maba. Di sana sudah banyak maba yang datang. Sebagian dari mereka masih berpakaian bebas, saling mengobrol, tertawa-tawa, mengomentari kakak kelas yang lalu lalang kaya polisi lalu lintas, bertukar cerita mengapa mereka bisa terdampar di sana. Kamis dan Jumat adalah masa briefing. Maba masih diperbolehkan menggunakan pakaian bebas. Dalam hati aku bergumam, sekarang mereka masih bisa tertawa-tawa dan bersenda gurau, lihat saja hari senin nanti.

Jam menunjukan pukul 08.00 wib. Saatnya acara dimulai. Sang ketua umum panitia osman, Yudi Prihatin – pak ketu, kita menyebutnya -  membuka secara resmi rangkaian acara osman. Dengan berbasa basi secukupnya, ia memberikan pengantar kepada adik-adik maba.

Setelah pak ketu selesai memberikan kata sambutan, sie acara kemudian menginformasikan rangkaian acara. Saat briefing memang panitia masih terlihat jinak, belum terlihat sangar, angker apalagi serem. Semuanya terlihat manis dan baik. Karena sesuai dengan kesepakatan awal di forum kepanitiaan, saat briefing adalah masa tenang, dan masa osman adalah masa tidak tenang. Menurutku memamg benar-benar tidak tenang pada akhirnya, karena beragam masalah justru mencapai klimaksnya saat osman itu terjadi.

Hingga di hari Jumat sore, kakak panitia masih terlihat anteng dan kalem. Rutinitas kami saat itu setelah selesai acara dan setelah para maba sudah pada pulang, kami harus menjalani rapat evaluasi untuk menilai keseluruhan acara pada hari tersebut. Apakah sesuai dengan rencana? Apakah ada yang kendala? Tak jarang pula debat pendapat hebat terjadi saat kita melakukan rapat evaluasi. Benar-benar seperti perdebatan di gedung DPR lah. Yang membedakan adalah jika di sana ributnya UUD alias Ujung-Ujungnya Duit sedangkan kami ributnya UUD jilid 2 alias Ujung-Ujungnya Damai lagi ribut lagi damai lagi ribut lagi yah begitu seterusnya hingga kitapun cape sendiri. Yah maklum lah karena kita saat itu masih sangat idealis lis lis. Semua diukur dengan takaran logika. Merasa paling benar, merasa paling tahu. Jika tidak merasa benar dan merasa tahu, sebaiknya diam jangan ikut berkomentar atau berbicara, karena hanya menambah runyam. Yah begitulah fikiran para mahasiswa yang masih idealis.

Sesuai dengan rangkaian acara yang telah disampaikan oleh sie acara, para peserta osman harus berfoto dengan gaya, atribut dan berfoto di lokasi yang semuanya telah ditentukan panitia. Tahun ini gaya yang diusung adalah hula-hula ala hawai, dengan hiasan batok kelapa, pete cina dan berlokasi di Gelora Senayan.

Foto yang dihasilkan harus digunakan sebagai name tag peserta osman yang wajib dipakai setiap peserta selama osman berlangsung.

Akhirnya tiba juga hari osman. Hari itu, Senin 27 September 2004. Para Peserta diwajibkan sampai kampus jam 05.30 pagi, berseragam putih hitam. Bagi peserta cowok disyaratkan hairless alias botak dan bagi peserta cewek menggunakan pita warna-warni.

Aku yang pada hari itu datang agak telat, yaitu pukul 07.00 agak excited, karena semua terlihat sama. Bingung membedakannya. Pagi itu, hampir semua peserta mengucapkan salam yang sama setiap kali aku temui. ”Pagi Kak!! Pagi Kak!!”. Sopan sekali ya.

Begitupun seterusnya, jika mereka melewati panitia yang kebetulan sedang berkumpul mereka berucap ”Misi Kak!! Misi Kak!!”

Semua tata etika tersebut kami terapkan kepada adik peserta, diharapkan dapat terus diaplikasikan di hari-hari berikutnya. Tidak hanya saat osman saja. Semoga saja.

<bersambung>

KALENDER KU

May 2012
M T W T F S S
« Aug    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

MY WEDDING PLANNER

Daisypath Wedding tickers

YM

PONDOK MUSLIMAH

Pondok Muslimah

BUKU FAVORITKU

PENGUNJUNG

  • 5,375 tamu

HORIZON KU

free counters

Galeri Fotoku

Bias Senja

Harmoni Senja

Dian Al Mahri

Semesta Bertasbih

Bunderan HI Sore Hari

Harmoni

Apresiasi

Terekam..

More Photos
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.